Minggu, 08 Januari 2017

KESEHATAN LAPANGAN DAN PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT



KESEHATAN LAPANGAN DAN PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT

Oleh : Tongem(MPG 91.01.022)

1.KESEHATAN LAPANGAN
            Dalam berkegiatan di alam terbuka,penyakit yang mungkin menyerang seseoaran terutama dipengaruhi oleh ketinggian,dingin ataupun panas yang berlebihan serta kondisi fisik yang sedang menurun.pada dasarnya,penyakit-penyakit yang mungkin timbul saat berkegiatan di alam bebas adalah factor yang dapat di perhitungkn sebelumnya.seseoarng yang telah mempersiapkan perlengkapan dan fisik nya akan lebih mudah dalam menghadapi kemungkinan ini dibandingkan mereka yang tidak siap.

A.PENYAKIT-PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI DAN PENANGANANNYA
1.Hypothermia
            Di Indonesia kematian akibat kecelakaan di gunung kebanyakan diakibatkan kerena oxposure(kehilangan panas tubuh), diantaranya yang terpenting adalah hypothermia atau penyakit menurunnya suhu tubuh. Missalnya ternyata bukan kerena udara yang terlalu dingin, tetapi sipenderita itu basah akibat terguyur hujan. Pakaian yang basah mengurangi kemampuan insulasi(kemampuan untuk menahan panas tubuh)sampai 90 persen. Daya tahan tubuh yang buruk dan perlengkapan yang kurang , mengakibatkan suhu tubuh terus turun hingga akhirnya mengakibatkan kematian.
            Tubuh manusia menjaga panas agar tubuh tetep normal ( 36-37) dengan beberapa cara antara lain :
-          melalui pencernaan makanan. Makanan yang masuk kedalam tubuh menghasilkan panas melalui oksidasi, dan ini terutama penting bagi tubuh saat istirahat. Pada saat tubuh mengalami metabolism basal dan menghasilkan energy minimal yang diperlukan manusia. Panas yang berasal dari pencernaan makanan ini akan menghasilkan lebih baik lagi oleh tubuh ketika sedang bergerak.
-          Panas juga diperoleh dari tubuh sendiri, yaitu dengan gerakan otot tubuh dan reaksi badan dengan mengigil. Mengigil adalah  reaksi yang muncul akibat tubuh kedinginan, dan ini menghasilkan panas yang setara dengan lari-lari kecil atau kalori dari 2 batang caklat yang dimakan setiap satu jam.
-          Reaksi alamiah lainnya dari tubuh untuk mempertahankan suhu adalah melalui penyempitan  kulit, sehingga menjaga darah agar tetep dekat dengan jantung.
Sebaliknya tubuh juga dapat kehilangan panas dengan beberapa cara. Setiap kali bernapas kita mengeluarkan udara panas. Dan ini berati hilangnya panas  dari tubuh. Hal ini tentu tak bisa dihindari, penguapan keringat dari kulit dan paru-paru merupakan penyebab terbesar hilangnya panas tubuh. Kendati ini tak dapat dihindarkan, tetep penguapan itu bisa dikendalikan dengan pakaian yang tidak menyerap air, tetapi uapnya masih dapat keluar.
      Panas tubuh juga dapat hilang dengan cara konduksi, misalnya Karena air hujan atau terkena benda dingin. Seorang pecinta alam yang kehujanan misalnya, akan kehilangan sejumlah panas tubuh dangan cepat. Panas juga dapat dilepaskan dari bagian-bagian tubuh yang tidak tertutup di udara dingin, terutama pada kepala, leher dan tangan.
      Angina atau aliran udara akan menghilangkan lapisan tipis udara panas diatas. Kematian bisa terjadi akibat hilangnya panas badan pada suhu udara 50c dengan tiupan angina 30 mil per jam.
      Orang yang terkena hyportemia menunjukan gejala-gejala yang sesuai dengan tingkat penurunan suhu tubuh. Kehilangan kesadaran misalnya, akan menyebabkan apa yang tersebut parodoxial feeling of warmth.penderita hyporthermia justru merasakan yang sebaliknya, yaitu rasa panas, sehingga meninggalkan pakaiannya diudara yang dingin itu. Gejala-gejala hypothermia tersebut adalah sebagai berikut :
Suhu Tubuh
(0 celcius)
Gejala-gejala yang mungkin
timbul pada tubuh
37 - 36
Suhu normal
36 – 35
Menggigil sampai bulu roma berdiri, tetapi masi terkendali. Gerak langkah menjadi lamban. Koordinasi tubuh mulai terganggu.
35
Menggigil tak terkendali lagi
35 – 33
Pengambilan keputusan dan koordinasi tubuh kabur. Langkah kaki sering tersandung. Berbicara kasar.
33
Semangkin menggigil. Denyut nadi dan tekanan darah mulai menurun.
32 – 29
Menggigil berhenti. Kebingungan meningkat,meracau dan ingatan mulai hilang, gerakan tersentak-sentak biji mata mulai membesar
29 – 20
Otot menjadi kaku, biji mata membesar, denyut nadi melemah atau tidak teratur, tarikan nafas melemah, warna kulit kebiru-biruan, tingkah laku kacau, menujuh ke arah tidak sadar.
27
Pingsan, biji mata tidak lagi menangkap gerakan cahaya, kehilangan gerakan spontan, tampak seperti telah meninggal.
26
Koma gawat, suhu tubuh mulai menurun dengan cepat sekali.
20
Denyut Jantung berhenti. (game Over)

            Kalau  anda melihat tanda-tanda hypothermia, beberapa hal yang harus dilakukan untuk menanggulanginya adalah :
1.      Jangan biarkan orang yang terkena hypothermia tidur, karena hal ini dapat membuatnya kehilangan kesadaran hingga tak mampu lagi menghangatkan badannya sendiri. Memanggil adalah usaha biolagis dari badan untuk hangat, karena itu usahakan untuk tidak tidur dan biarkanlah menggigil.
2.      Berikan minuman hangat dan manis kepada penderita hypothermia.
3.      Kalau tersedia baju kuning, gantilah baju basah sedang dipakainya.
4.      Usahakan untuk mencari tempat yang aman dari hembusan angina, misalnya dengan mendirikan tenda atau pelindung.
5.      Jangan baringkan si penderita ke tanah, usahakan agar memakai alas yang kering dan hangat.
6.      Masukan si penderita kedalam kantung tidur (sleeping bag). Usahakan agar sleep bag tersebut dihangatkan terlebih dahulu oleh orang yang masih sehat. Orang tersebut sebaiknya hanya mengenakan celana dalam atau bahkan telanjang, ini dilakukan agar panas tubuhnya cepat menghangatkan sleeping bag tersebut.
7.      Letakkan botol air hangat (bukan panas) ke dalam sleeping bag untuk membantu menghangatkan sleeping bag.
8.      Kalau sleeping bag yang digunakan cukup lebar, maka panas badan orang yang sehat dapat membantu si penderita secara langsung, yaitu dengan cara tidur berdampingan di dalam satu kantung tidur. Keduanya sebaiknya telanjang,karena kaontak langsung kuliat ke kulit akan cepat menghangatkan si penderita.
9.      Kalau bole buatlah api di kedua sisi si penderita.
10.  Segera setelah si penderita sadar, berikanlah makanan yang manis-manis, karena hidrat arang merupakan bahan bakar yang cepat menghasilkan panas dan tenaga.

2.mountain sicknees (hypoxia)
            Semangkin tinggi suatu daerah, semangkin tipislah kadar oksigennya. Ini mempengaruhi aktivitas seorang pendaki gunung kerena hypoxia. Kapasitas kerja fisik akan menurun. Memang tidak semua pendaki gunung mengalami hal yang sama, kerena besar kecilnya pengaruh dari kekurangan oksigen ini tergantung dari masing-masing individu, terutama kesegaran jasmaninya. Ada pendaki gunung yang sudah terkenah pengaruh ada ketinggian 2000 meter, tetapi ada yang merasakannya pada ketinggian 4000 meter atau lebih.
            Pendaki yang terkena hypoxia akan memperlihatkan gejala-gejala yang disebut mountain sickness (penyakit gunung). Biasanya gejala ini muncul akibat si pendaki terlalu mencapai suatu ketinggian. Munculnyapun beberapa jam setelah mencapai ketinggian tersebut.gejala-gejala tersebut berupa pusing,nafas sesak,tidak nafsu makan,mual,munta,kedinginan,badan terasa lemas,perasaan malas sekali,jantung berdenyut lebih cepat,dan sakit kepala. Selanjutnya penderita tidak dapat tidur, muka pucat,kuku dan bibir terlihat kebiru-biruan.
            Pada umumnya gejalah ini akan hilang beristirahat, yaitu setelah 24 sampai 28 jam kemudian,karena itu penderita di anjurkan untuk beristirahat agar kebutuhan tubuh akan oksigen dapat dikurangi. Tetapi kalau usaha ini tidak berhasil, maka penanggulangan yang tepat adalah membawa turun si penderita dari ketinggian tersebut. Keseluruhan gejalah ini umum nya akan berkurang apabila ketinggian dikurangi 500 hingga 600 meter dari ketinggian semula si penderita berada.
            Cara lain untuk mengatasinya adalah dengan bernafas dalam-dalam dan cepat agar oksigen banyak yang msuk ke dalam sistem pernafasan. Saying cara ini sangat melelahkan dan malakelamaan akan menimbulkan pusing atau bahkan mual sebagai akibat pengaruh kehilangan karbon dioksida. Pernafasan dengan tabung oksigen merupakan pertolongan  yang terbaik, tetapi biasanya sangat jarang kita membawanya, kecuali pada pendakian gunung diatas ketinggian 7000 meter.
            Ada suatu cara untuk menghindari hypoxia, yaitu dengan melakukan proses aklimatisasi, yaitu proses memberi kesempatan  bagi tubuh untuk menyesuaikan diri dengan kadar oksigen udara pada pada ketinggian saat itu. Ini dapat dilakukan dengan tidak terlalu cepat mencapai suatu perbedaan ketinggian dari tempat semula. Misalnya,dari ketinggian 300 mdpl langsung memndaki dan mencapai ketinggian 3000 mdpl. Hindarilah kejadian diatas, setidaknya istirahatlah dengan membuka kemah pada ketinggian 2500 mdpl dulu. Setelah satu hari dan di rasakan tidak ada pengaruh besar bagi tubuh, barulah boleh menambah ketinggisn hingga 3500 mdpl, begitu selanjutnya.

3.pulmonary Edema (Edema Paru-paru)
            Kebocoran plasma darah ke dalam jaringan paru-paru menyebabkn kantung-kantung udarah (alveol),tidak efektif lagi untuk pertukaran oksigen dengan karbon dioksida. Ini menyebabkan apa yang disebut dengan adema paru (pulmonary edema). Penyebabnya sampai sekarang belum di pahami betul, tetapi masi berkaitan dengan berkurangnya reaksi tubuh dengan oksigen.
            Gejala-gejala edema paru bisa muncul kira-kira ketinggian 3000 meter,yaitu 12 jam sampai 36 jam setelah si penderita kekurangan oksigen. Semangkin besar pengerahan tenaga di ketinggian yang kurang oksigen itu, semangkin berkembang edema paru. Berdasarkan hal ini, maka penanggulangan yang dapat dilakukan segera adalah dengan beristirahat.
            Sepintas gejala-gejala edema paru mirip dengan penyakit gunung yang akut (AMS – acute mountain sicknees). Gejala-gejala tersebut adalah : nafas terputus-putus ( dada terasa hempit), mual, tidak nafsu makan, batuk kering dan di lanjutkan dengan batuk berlendir,dahak berdara, denyut nadi sangat cepat (120 sampai 160 per menit), nafas terdengar rebut ( suara bergelembung dari dada), serta kuku dan bibir kebiru-biruan (sianosis)
            Kalau penanggulangan segera dilakukan, si penderita akan kehilangan kesadaran dan mungkin disertai dengan gelembung busa putih atau merah jambu di mulut atau hidung. Ini adalah tahap akhir yang bisa mengakibatkan kematian, terutama kalau si penderita tidak segera diturunkan ke tempat yang lebih rendah. Gejala ini bisa saja tidak di perhatikan kerena sering terjadi pada malam hari, dari terlihat akibatnya keesokan harinya. Edema paru juga mirip dengan tahap akhir hypothermia, sehingga salah di tapsirkan.
            Untuk mencegah kemungkinan penyakit ini,pendaki gunung hendaknya berjalan dengan peralatan. Di atas ketinggian 3300 meter, dianjurkan untuk beristirahat sedikitnya satu hari untuk aklimitisasi (kekurangan dalam sel-sel tubuh). Begitu gejala pertama muncul (pusung sekali dan batuk-batuk), secepatnya dilakukan evakuasi dengan mengangkutnya ketempat yang lebih rendah.

4. Heat Exhaustion (kepanasan)
            Rasa panas yang berlebihan yang disebut dengan lejar panas (heat exhaustion) dapat dialami seseorang kerena keadaan alam yang panas atau kerena fisiknya yang lemah. Keadaan ini menyebabkan urat-urat darah di bawah kulitnya mengambang,sehingga aliran darah keotak dan organ penting lainnya akan berkurang. Timbul gejala-gejala : mual, pusing, haus, sakit kepala, kulit lembab dan dingin, tidak sadar diri, dan mungkin urat nadi berdenyut keras.
            Aklimatisasi yang kurang terhadap panas, terjadinya dehidrasi atau kekurangan garam dalam tubuh, membuat seseorang peka sekali terhadap rasa panas. Untuk menanggulangi ini, si penderita harus beristirahat di tempat yang teduh, lalu di beri minum air dingin yang di beri garam atau tablet garam.
            Terik matahari dapat membuat rasa panas yang luar biasa buat seseorang. Timbullah gejala yang disebut sangat panas (heat stroke atau sun stroke), yaitu muka merah dan panas, denyut urat nadi cepat, sakit kepala, lemah dan malas. Hal ini disebabkan karena kegagalan tubuh dalam proses berkeringat dan mekanisme pengaturan panas badan. Kalau gejala-gejala tersebut muncul, ini merupakan masalah serius yang membutuhkan penanggulangan secepatnya. Tempatkan segera si penderita di tempat yang sejuk, lalu dinginkanlah dengan cara merendam kepalanya dengan air. Segera minum air dingin secara terus menerus hingga suhu badan normal kembali.
            Keram otot juga sering di alami oleh pendaki gunung. Hal ini disebabkan kerena asam laktat terkumpul di jaringan kulit otot sebagai akibat berkurangnya garam kerena keluar lewat keringat secara berlebihan. Langka pertama yang bisa di lakukan adalah membaringkan si penderita agar darah membawa keluar kumpulan asam laktat dan jaringan otot. Renggangkanlah otot yang keram dengan menarik dan mendorongnya. Kemudian berikan tablet garam kepada si penderita untuk menghilangkan penyebab sebenarnya dari penyakit itu.

5. frost bite (radang dingin)
            Seperti telah di tulis di muka, salah satu cara tubuh untuk mempertahankan panas adalah dengan penyempitan pembuluh darah kulit. Mekanisme ini menyebabkan aliran darah ke permukaan kulit berkurang, karena sebagian besar darah itu mengalir ke organ inti tubuh. Kerena tangan dan kaki merupakan organ tubuh yang jauh dari jantung, maka pengaruh udara dingin sangat terasa di bagian ini. Demikian juga hidung dan kuping, walaupun menerima suplai darah yang banyak, tetapi bentuknya menonjol sehingga cukup cepat menerimah pengaruh dingin.
            Di gunung es, udarah sangat dingin bisa mempengaruhi otot sehingga menyulitkan koordinasi tubuh.kalau ini terjadi, si penderita akan sukar menyalakan korek api, membuat simbul tali, atau memegang benda-benda kecil. Kalau temperature kulit menurun di bawah 10 derajat celcius, sentuhan dan rasa sakit di kaki atau tangan tidak  lagi terasa. Begitu temperature menurun lagi, penyakit radang dingin (frostbite) akan timbul, sebagai akibat membekunya air di dalam sel-sel antara kuliat dengan kapilar ( pembuluh darah terkecil).
            Radang dingin ditandai oleh kulit yang pucat dan berwarnah putih keabu-abuan. Hal ini bisa di amati di ruang yang bersuhu normal dengan menekankan jari yang diduga terkena radang dingin ke bagian badan yang lain. Ketika jari itu diangkat akan terlihat warna putih keabu-abuan sebelum darah kembali mengalir di daerah itu. Kulit di bagian itu akan mengeras dan membeku. Rasa sakit mula-mula muncul, tetapi kemudian mereda. Bagian yang terkena radang dingin terasa dingin atau bahkan mati rasa. Pada tahap berikutnya, jarigan kulit yang mengeras  bukan hanya di permukaannya saja, tetapi juga yang ada dibawahnya. Pembekuan akan meluas ke otot dan kemudian ke tulang. Kalau tidak dihentikan , pembekuan akan terus meluas, sehingga satu-satunya jalan untuk menghentikannya adalah memotong (amputasi) bagian yang terkena radang dingin itu.
            Cara yang terbaik untuk menghindari radang dingin adalah dengan pencegahan. Perlengkapan menahan dingin yang baik harus di perhatikan terutama di gunung es, misalnya dengan memakai trus kaus kaki wol, mitten, dowm  jacket, double mountain boot, dan sebagainya. Kalau ada terasa ada bagian badan yang dingin segera tutupi dengan perlengkapan tambahan. Lakukalah gerakan-gerakan untuk menanggulanginya, misalnya dengan melatih jari-jari dan pergelangan kaki. Hindari minuman alkoholdan rokok sebelum dan selama radang dingin itu berlangsung. Merokok akan menyempitkan pembuluh darah, kulit, sehingga menambah kemungkinan radang dingin. Sedangkan alcohol menyebabkan darah mengalir cepat melalui jaringan tubuh, sehingga mendinginkan darah itu sendiri. Terjadilah penurunan suhu tubuh secara menyeluruh.
            Penanggulangan  segera kalau terkena radang dingin ialah dengan membungkus bagian badan yang membeku itu dengan jaket atau kantung tidur yang kering dan tahan angin, lalu kempitkan kebagian badan lainnya yang masih hangat. Jangan mengosok-gosok bagian yang beku itu dengan tangan, dan hindarilah kemungkinan tergesek aloh salju atau hal lainya. Gosokan hanya akan merusak jaringan kulit. Segera masukkan si penderita ke dalam tenda, lalu masukkan bagian badan yang yang membeku itu ke dalam air hangat-hangat kuku (kira-kira 39 derajat celcius), sedikit lebih hangat dari suhu tubuh). Jangan sekali-kali mencoba memanaskan bagian yang membeku itu dengan air panas atau api, karena panas yang berlebihan hanya akan menambah kerusakan pada jaringan kulit bersangkutan.

6.snow blind (buta salju)
            Semangkin tinggi suatu daerah, semangkin besar pengaruh sinar ultraviolet. Kalau pengaruh ini berlangsung terus-menerus, terutama di padang es, permukaan mata akan terbakar dan jaringan kuliat sekitarnya akan menyebabkan penyakit yang di sebut buta salju. Penyakit ini tidak timbul tiba-tiba, tetapi delapan sampai dua belas jam kemudian. Mula-mula  mata terasa perih dan kering, baru kemudian merasa seperti “terisi oleh pasir”. Menggerakan dan mengedip-ngedipkan mata akan terasa sakit, air mata pun banyak bercucuran. Kelopak mata seringkali merah dan bengkak,serta sulit atau bahkan tidak mungkin terbuka terus.
            Buta salju akan menghilang sendiri dalam beberapa hari kemudian. Pokok penting sekarang adalah beristirahat, jangan mencoba mempergunakan mata untuk melihat. Tutuplah mata dengan kain yang bersih. Jangan sekali-kali menggosok-gosok mata itu, karena bisa iritasi dan akan menyebabkan infeksi. Tunggulah dengan sabar hingga keadan mata normal kembali.

II. PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT PADA KECELAKAAN
A.PERALATAN PPGD
            Pertolongan yang cepat dan tepat tidak selalu memerlukan alat yang mahal dan modern. Tiap penolong harus dapat bekerja dengan bahan yang ada (improvisasi)
a. Bahan yang minimal harus tersedia :
1. bahan untuk membersihkan tanagan misalnya sabun,alcohol
2. Obat untuk mencuci muka misalnya air bersih,boor water, poviden iodine
3. Obat untuk menghilangkan rasa nyeri misalnya paracetamol
4. Bahan untuk menyadarkan misalnya amoniak,aau de cologne

b. Alat minimal yang di sediakan :
1. Pembalut cepat
2. Pembalut gulung
3. Pembalut segitiga
4. Kapas
5. Plaster
6. Kasa steril
7. Gunting
8. Pinset

B. PELAKSAAN PPGD
a. Dalam PPGD pelaku bertindak dengan cepat dan tepat namun tanpa mengabaikan prinsip PATUT. Tiap korban perlu diperiksa
b. Langkah-langkah pemeriksaan kecelakaan :
1. pemeriksaan kesadaran
            Apakah korban sadar atau tidak, pingsan, gelisah, acuh tak acuh.
Ancaman maut diatasi dengan menghilangkan penyebab gengguan kesadaran , istirahat dan menentramkan korban yang gelisah. Bila korban tidak sadar selama 30 menit ia harus diangkut ke dokter atau puskesmas/rumah sakit
2. periksa pernapasan
Apakah pernapasan korban berhenti, cepat, lambat, tidak teratur. Amati korban (lihat cuping hidung dan dengar)
Tindakan awal adalah membebaskan jalan napas dan mempertahankan saluran pernapasan. Bila pernapasan berhenti maka harus dilakukan pernapasan buatan.
3. Periksa tanda-tanda perdarahan dan peredaran darah
Apakah teraba denyut jantung ?
Tindakan yang harus dilakukan dengan segera yaitu menghentikan perdarahan.
4. Periksa keadaan lokal (patah tulang, luka) dan perhatikan keluhan
Tanyakan kepada korban apakah ada yang nyeri, linu, sakit ? minta tunjukan mana yang nyeri.
Apakah ada luka, harus di lihat juga apakah ada luka lain, beritahu korban bahwa ia akan ditolong dan diajaklah bercakap-cakap.

C. GANGGUAN
1. Umum
            Gangguan umum yaitu berupa gangguan yang mempengaruhi keadaan umum seseorang dan dapat menyebabkan suatu ancaman maut. Tindakan pertolongan yang segera dilakukan terutama untuk menyelamatkan jiwa si korban.
            Adapun macam-macam gangguan umum yaitu berupa :
-          Gangguan pernapasan
-          Gangguan peredaran darah
-          Gangguan kesadaran

2. Gangguan pernapasan
a. Umum
            zat asam merupakan unsur yang perlu untuk kehidupan. Dengan bernapas orang akan memperoleh zat asam dari udara yang mencapai tubuh melalui paru-paru. Hanya sebagian kecil dari udarah yang kita hirup itu digunakan oleh tubh sedang dari jumlah ini hanya seperlima masuk ke dalam darah. Sisa zat asam dalam udara di hembuskan lagi keluar bersama zat arang. Oleh sebab itu dengan hembusan napas penolong, korban dapat pulah memperoleh zat asam.
b. Cara menenttukan seorang korban bernapas atau tidak
1.      Lihat, gerakan dada dan perut korban, apakah ada gerakan naik turun.
2.      Dengar, suara aliran udara
3.      Rasakan, hembusan udara dari hidung dan mulut korban.
c. Sebab terjadinya gangguan pernapasan
1.      Sumbat jalan napas
2.      Menghisap asap/gas beracun
3.      Kelemahan atau kekejangan ototpernapasan
d. bila pernapasan buatan diberikan

3.Gangguhan peredaran dara
a. umum
            Salah satu tugas darah adalah mengangkut zat asam dari paru-paru keseluruh tubuh. Bila zat asam tak dapat mencapai darah, alat penting seperti jantung dan otak akan rusak. Hal ini sudah terjadi 4-6 menit setelah zat asam tak tersedia. Apakah aliran darah tak cukup, maka akan timbul keadaan gugat atau syok yang sangat berbahaya.
b. Syok (gugat)
            Adalah: keadaan di mana peredaran organ terganggu. Pada dasarnya ini suatu keadaan dimana alat-alat tubuh tidak cukup mendapat aliran darah yang mengandung zat asam/oksigen.
c. Sebab-sebab terjadinya syok
1.      Perdarahan yang hebat.
2.      Luka bakar yang luas.
3.      Rasa nyeri yang hebat.
4.      Kekurangan cairan tubuh secara cepat (perdarahan/muntaber)
d. Tanda-tanda syok
1.      Pucat.
2.      Mata terlihat cekung.
3.      Nadi susah terasa dan apabila terasa sangat cepat (150/menit)
e. Tanda jantung berhenti
            Tampak seperti mati dengan tanda:
1.      Korban tidak sadar dan tidak bernapas.
2.      Denyut jantung tidak teraba.
3.      Tidak terdengar bunyi jantung.
4.      Warna kulit pucat sampai kelabu.
5.      Mata melebar.
f. Bagaimana cara mengetahui bahwa jantung berhenti berdetak
1.      Cara memeriksa:
a. Letakkan jari telunjuk dan jari tengah pada jakun korban
b. Geserkan jari-jari itu kebawa menuju antara lekukan antara otot di leher, dimna arteria car Otis berada.
c. Didaerah tersebut akan terasa denyut nadi.
2.      Bila tidak ditemukan denyut nadi, berarti jantung berhenti.
4.Gangguan kesadaran
1. Umum
            Korban yang mengalami gangguan kesadaran perlu penanganan cermat karena otot-ototnya (termasuk otot, ldah dan rahang) menjadi lemas. Apabilah ia dibiarkan berbaring terlentang, pangkal lidah akan jatuh ke belakang dan menyumbat tenggorokan.
            Demikian juga, darah, atau bahan muntah yang masuk ke dalam tenggorokan dapat menyumbat saluran napas. Korban tidak sadar yang masih bernapas, harus di tempat dalam posisi miring mantap kanan atau posisi aman untuk mempertahankan jalan napas tetap bebas kecuali ada luka/cedera bagian kanan tubuh.
2.Sebab gangguan kesadaran
1.      Benturan/pukulan pada kepala.
2.      Sengatan sinar mata hari yang langsung mengenai tengkuk kepala.
3.      Berada dalam ruangan yang penuh orang, hingga kekurangan zat asam.
3.Perbedaan sadar dan tidak sadar
SADAR

TIDAK SADAR
Bila diajak berbicara ada respon
Bila di ajak berbicara tidak ada respon

D. TINDAKAN PADA PPGD
1. pertolongan gangguan pernapasan
a. Umum
            untuk PPGD dikenai beberapa macam pernapasan buatan antara lain:
1.      Dari mulut ke mulut dan dari mulut ke hidung.
2.      Cara holger Nielsen.
3.      Cara silvester.
b. Pernapasan buatan dari mulut ke mulut
1.      Baringkan korban terlentang.
2.      Longgarkan pakaian korban, misalnya ikat pinggang, dasi dll.
3.      Bersihkan mulut, hidung, dan tenggorokan korban
4.      Bebaskan jalan napas dengan cara : tengadakan kepala ke belakang dengan satu tangan lalu tangan yang lain menunjang leher.
5.      Pada pernapasan buatan dari mulut ke mulut, tutup hidung korban agar udara yang ditiup tidak keluar lagi melalui hidung.
6.      Ambil napas dalam, agar udara cukup banyak untuk ditiupkan ke dalam paru-paru korban.
7.      Letakkan mulut penolong rapat-rapat mencakup seluruh mulut korban, kemudian tiup kuat hingga terlihat dada korban mengembang.
8.      Berikan 4 kali napas dengan cepat, napas dalam dan hembuskan dengan cepat. Tiap napas harus cukup untuk mengembangkan dada korban.
9.      Lanjutkan pertolongan napas 12-15 kali per menit.
10.  Sesudah satu menit diberi bantuan napas, periksa kembali apa korban dapat bernapas sendiri, lakukan pemeriksaan itu setiap beberapa menit sesudah itu.
11.  Jika korban sudah bernapas kembali, ia harus dalam posisi aman/stabil dan di awasi pernapasannya.
12.  Jika korban tidak bernapas atau pernapasannya berhenti kembali harus dianjurkan dengan bantuan napas.
Pada beberapa keadaan pernapasan buatan mulut ke mulut/mulut ke hidung tidak dapat dilaksanakan misalnya bila :
1.      Ada luka/perdarahan di daerah mulut dan hidung
2.      Korban keracunan yang masuk melalui mulut.
Ada dua (2) metode lain yang dapat dipakai a.I. holger neilsen dan silvester (pernapasan buatan ini kurang efektif disbanding mulut ke mulut).
c. pernapasan buatan dari mulut ke hidung
1.      Cara ini dilakukan apa bila terdapat luka pada rahang/bibir atau bila mulut korban tidak bisa di buka
2.      Bebaskan jalan napas.
3.      Gunakan jempol satu tangan untuk menahan dagu dan menekan bibir bawah agar mulut tertutup.
4.      Ambil napas dalam dan berikan napas 4 kali hembusan napas penuh dengan cepat melalui hidung, sehingga dada korban mengembang.
5.      Buka mulut korban, perhatikan dada korban turun sambil mengambil napas lagi,
6.      Tutup mulut korban, hembuskan napas dengan kuat dan lakukan sebanyak 12-15 kali permenit,
7.      Lanjutkan bantuan napas dengan beberapa hembusan yang cukup untuk mengembangkan dada,
8.      Istirahat 5-10 detik untuk memeriksa apakah pernapasan telah kembali.
d. Pernapasan buatan Holger Neilsen
1.      Bebaskan jalan napas.
2.      Korban di telungkupkan dengan kedua telapak tangannya diletakkan di bawah pipi debagai bantal.
3.      Penolong berlutut dengan salah satu lutut, (kira-kira 15 cm) sebelah telingah korban.
4.      Kaki yang lain diletakkan 5 cm dari siku korban.
5.      Tekan punggung korban pada tulang belikat dengan kedua telapak tangan sambil menghitung : satu, dua, tiga.
6.      Pada hitungan ke empat (4) tekanan di lepaskan, dan lengan penolong di geser kea rah lengan korban,
7.      Tarik lengan korban kearah perut penolong, sehingga rongga dada korban mengembang sambil menghitung : lima, enam, tujuh.
8.      Pada hitungan ke delapan (8), tangan penolong kembali di geser kea rah tulang belikat korban dan seterusnya. Hal ini dilakukan terus menerus dengan tekun sampai ada tanda kehidupan dengan kecepatan 10-15 kali permenit.
9.      Bila setelah 30 menit belum ada tanda hidup, hentikan pernapasan buatan.
10.  Juika tulang lengan pata, cukup dekerjakan dengan menggerakkan bahu korban naik turun 12 kali per menit.